Dokter Ingatkan Risiko Penyakit Kulit dari Baju Thrifting yang Tidak Dicuci Tren thrifting atau berburu pakaian bekas kembali naik daun di berbagai kota besar Indonesia. Selain harganya yang terjangkau, banyak orang tertarik karena bisa menemukan pakaian unik, bermerek, bahkan bergaya vintage. Namun di balik euforia tersebut, dokter mengingatkan adanya risiko kesehatan, terutama penyakit kulit, jika baju thrifting dipakai tanpa dicuci terlebih dahulu.
Fenomena ini bukan sekadar isu sepele. Dalam praktik medis, keluhan gatal, ruam, hingga infeksi kulit sering kali berawal dari kontak dengan pakaian yang tidak higienis. Baju bekas, sebersih apa pun tampaknya, menyimpan potensi masalah jika tidak diperlakukan dengan benar sebelum digunakan.
“Saya sering melihat orang terlalu fokus pada gaya dan harga murah, tapi lupa bahwa kulit kita adalah organ paling luas dan paling mudah terpapar risiko.”
Thrifting sebagai Gaya Hidup Baru
Dalam beberapa tahun terakhir, thrifting bukan lagi sekadar cara berhemat. Ia telah menjadi gaya hidup, terutama di kalangan anak muda. Media sosial dipenuhi konten berburu baju bekas, mix and match pakaian thrift, hingga rekomendasi pasar loak dan toko pakaian bekas.
Selain faktor ekonomi, thrifting juga dikaitkan dengan isu keberlanjutan lingkungan. Memakai pakaian bekas dianggap sebagai langkah mengurangi limbah tekstil dan konsumsi berlebihan. Nilai ini membuat thrifting terasa lebih bermakna dibanding sekadar belanja pakaian baru.
Namun, aspek kesehatan sering kali tertinggal dalam percakapan publik tentang thrifting.
Dari Lemari Orang Lain ke Kulit Kita
Baju thrifting pada dasarnya adalah pakaian yang pernah dipakai orang lain, disimpan dalam waktu lama, dan berpindah tangan melalui berbagai proses. Tidak semua pakaian bekas berasal dari sumber yang jelas.
Sebagian baju mungkin disimpan bertahun tahun di gudang lembap, bercampur dengan pakaian lain, atau terpapar debu dan kotoran. Bahkan jika terlihat bersih dan wangi, bukan berarti pakaian tersebut bebas dari mikroorganisme.
Kulit manusia sangat sensitif terhadap lingkungan baru. Ketika pakaian bekas langsung bersentuhan dengan kulit tanpa dicuci, risiko iritasi dan infeksi menjadi lebih besar.
Mikroorganisme yang Bisa Menempel di Pakaian Bekas
Dokter menjelaskan bahwa pakaian bekas berpotensi membawa berbagai mikroorganisme. Jamur, bakteri, hingga parasit kecil seperti tungau bisa bertahan di serat kain dalam waktu tertentu.
Jamur kulit, misalnya, dapat berkembang di lingkungan lembap dan hangat. Pakaian yang disimpan lama tanpa sirkulasi udara menjadi tempat ideal bagi jamur untuk bertahan hidup.
Selain itu, bakteri yang berasal dari keringat, sel kulit mati, atau cairan tubuh pemakai sebelumnya juga bisa menempel di pakaian.
Risiko Penyakit Kulit yang Mengintai
Penyakit kulit akibat baju thrifting yang tidak dicuci bervariasi. Yang paling sering ditemukan adalah dermatitis kontak, yaitu reaksi iritasi atau alergi pada kulit.
Gejalanya bisa berupa gatal, kemerahan, rasa panas, hingga kulit bersisik. Pada beberapa kasus, muncul bentol atau ruam yang menyebar di area tubuh tertentu.
Infeksi jamur seperti panu, kurap, atau kutu air juga berpotensi terjadi, terutama jika pakaian tersebut lembap atau jarang dibersihkan sebelumnya.
Skabies dan Parasit Kulit
Meski lebih jarang, dokter juga mengingatkan potensi penularan skabies atau kudis. Penyakit ini disebabkan oleh tungau kecil yang hidup di lapisan kulit.
Tungau skabies dapat bertahan hidup sementara di kain, terutama jika pakaian tidak dicuci dengan air panas. Ketika pakaian tersebut dipakai langsung, tungau bisa berpindah ke kulit manusia dan menyebabkan rasa gatal hebat, terutama di malam hari.
Risiko ini memang tidak selalu terjadi, tetapi cukup serius untuk diwaspadai.
Bau Wangi Tidak Menjamin Aman
Banyak baju thrifting yang dijual dalam kondisi wangi, seolah sudah bersih. Namun, dokter menegaskan bahwa aroma wangi bukan indikator kebersihan.
Bau wangi bisa berasal dari pewangi pakaian atau pengharum ruangan yang digunakan pedagang. Zat kimia ini justru bisa memicu iritasi kulit pada orang yang sensitif.
Tanpa proses pencucian menyeluruh, mikroorganisme tetap bisa bertahan meskipun pakaian tampak bersih secara kasat mata.
Risiko Lebih Tinggi pada Anak dan Kulit Sensitif
Anak anak dan orang dengan kulit sensitif memiliki risiko lebih tinggi mengalami masalah kulit akibat pakaian bekas. Kulit mereka cenderung lebih tipis dan reaktif terhadap iritan.
Pada anak, reaksi kulit bisa muncul lebih cepat dan lebih berat. Ruam yang dibiarkan tanpa penanganan dapat berkembang menjadi infeksi sekunder.
Karena itu, dokter sangat menyarankan agar pakaian bekas untuk anak dicuci dengan ekstra hati hati sebelum digunakan.
Cara Aman Mencuci Baju Thrifting
Langkah paling sederhana dan efektif untuk mencegah risiko adalah mencuci baju thrifting sebelum dipakai. Dokter menyarankan mencuci dengan air dan deterjen, lalu menjemurnya hingga benar benar kering.
Jika memungkinkan, gunakan air hangat untuk membantu membunuh kuman dan parasit. Pakaian juga sebaiknya direndam terlebih dahulu selama beberapa waktu sebelum dicuci.
Setrika dengan suhu panas juga bisa menjadi langkah tambahan untuk memastikan kebersihan pakaian.
Perhatikan Jenis Kain dan Warna
Tidak semua baju thrifting bisa diperlakukan dengan cara yang sama. Beberapa kain sensitif terhadap air panas atau deterjen keras.
Meski demikian, aspek kesehatan tetap harus diutamakan. Jika ragu, setidaknya cuci pakaian dengan sabun lembut dan bilas bersih, lalu keringkan secara optimal.
Tujuannya bukan merusak pakaian, melainkan melindungi kulit dari risiko yang tidak terlihat.
Kebiasaan Langsung Pakai yang Perlu Diubah
Sebagian orang terbiasa langsung memakai baju thrifting karena merasa bersih atau ingin segera mencoba gaya baru. Kebiasaan ini sebaiknya diubah.
Dokter menekankan bahwa mencuci pakaian bekas bukan soal berlebihan, tetapi langkah preventif yang masuk akal. Risiko penyakit kulit jauh lebih merepotkan dibanding waktu yang dibutuhkan untuk mencuci pakaian.
Perubahan kebiasaan kecil ini bisa berdampak besar bagi kesehatan kulit.
Peran Edukasi Kesehatan Publik
Isu ini menunjukkan pentingnya edukasi kesehatan publik dalam tren gaya hidup baru. Thrifting boleh saja digalakkan, tetapi harus diiringi dengan informasi yang benar.
Pedagang, influencer, dan komunitas thrifting juga bisa berperan dengan mengingatkan pembeli untuk mencuci pakaian sebelum digunakan. Pesan sederhana ini dapat mencegah banyak kasus gangguan kulit.
Kesadaran kolektif akan membuat tren thrifting tetap aman dan menyenangkan.
Antara Gaya, Lingkungan, dan Kesehatan
Thrifting memiliki banyak nilai positif, dari sisi ekonomi hingga lingkungan. Namun, kesehatan tidak boleh dikorbankan demi gaya.
Baju bekas bisa menjadi pilihan cerdas jika diperlakukan dengan benar. Dengan mencuci sebelum dipakai, risiko penyakit kulit dapat ditekan tanpa harus meninggalkan tren yang sedang digemari.
Keseimbangan antara gaya hidup, kepedulian lingkungan, dan kesehatan adalah kunci.
Pengalaman Klinis yang Jadi Pengingat
Dalam praktik sehari hari, dokter kerap menemui pasien yang tidak menyangka pakaian bisa menjadi sumber masalah kulit. Banyak yang baru menyadari setelah gejala muncul berulang.
Pengalaman ini menjadi pengingat bahwa apa yang bersentuhan langsung dengan kulit harus mendapat perhatian khusus, termasuk pakaian.
Kesadaran ini seharusnya menjadi bagian dari gaya hidup sehat modern.
Pendapat Pribadi Penulis
“Menurut saya, thrifting adalah pilihan cerdas dan berkelanjutan, tetapi mencuci baju bekas sebelum dipakai adalah bentuk penghormatan paling sederhana pada tubuh kita sendiri. Gaya boleh nomor satu, tapi kesehatan kulit seharusnya tidak pernah jadi taruhan.”








