Sumber Air Menyusut, BNPB Hadapi Pemadaman Karhutla yang Kian Berat Badan Nasional Penanggulangan Bencana mengungkap persoalan baru yang semakin menyulitkan operasi pemadaman kebakaran hutan dan lahan di sejumlah wilayah Indonesia. Memasuki puncak musim kemarau pada Agustus 2026, sumber air yang selama ini digunakan petugas mulai menyusut, sementara jaraknya dari sejumlah titik kebakaran semakin jauh.
Pelaksana Tugas Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Berton SP Panjaitan mengatakan kondisi tersebut dirasakan dalam operasi darat maupun pemadaman menggunakan helikopter. Petugas di darat harus mencari sumber air lebih jauh, sedangkan helikopter membutuhkan waktu terbang lebih panjang untuk mengambil air sebelum menjatuhkannya ke lokasi kebakaran.
Persoalan air muncul ketika enam provinsi masih menjadi prioritas penanganan karhutla, yakni Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan. BNPB menjalankan operasi terpadu melalui satuan tugas darat, patroli udara, helikopter pemadam, serta operasi modifikasi cuaca.
Sumber Air Semakin Jauh dari Lokasi Kebakaran
Air merupakan kebutuhan utama dalam operasi pemadaman karhutla. Petugas membutuhkan pasokan dalam jumlah besar untuk menyiram permukaan yang terbakar sekaligus membasahi bagian tanah yang masih menyimpan bara.
Masalah mulai muncul ketika kemarau berlangsung cukup panjang.
Menurut Berton, sumber air di sekitar area kebakaran mulai surut. Beberapa lokasi pengambilan air bahkan berada semakin jauh dari titik api. Keadaan tersebut membuat proses pemadaman membutuhkan waktu lebih lama karena personel harus menghubungkan pompa dengan selang yang lebih panjang atau mencari lokasi pengambilan air alternatif.
Situasi serupa sebelumnya sudah terlihat di Aceh Selatan. Manggala Agni harus membuat embung setelah sejumlah kanal mulai mengering. Alat berat digunakan untuk membersihkan kanal serta menyiapkan tempat penampungan air agar petugas tidak harus mengambil air terlalu jauh dari kawasan terbakar.
Kondisi seperti ini memperlihatkan bahwa keberadaan pompa dan personel saja tidak cukup. Peralatan pemadam hanya dapat bekerja ketika tersedia air dalam jumlah memadai.
“Menurut penulis, penyusutan sumber air membuat operasi karhutla menghadapi persoalan berlapis. Petugas tidak hanya mencari api, tetapi juga harus mencari air sebelum pemadaman dapat dilakukan secara maksimal.”
Jalur Darat Sulit Ditembus Petugas
Selain air, akses menuju lokasi menjadi hambatan besar.
Banyak titik kebakaran berada jauh dari jalan utama. Sebagian terletak di kawasan gambut, perkebunan, pertambangan, semak lebat, atau wilayah yang hanya dapat ditembus dengan kendaraan tertentu.
BNPB menyebut tidak semua titik api mempunyai akses jalan yang dapat digunakan kendaraan pemadam. Tim harus berjalan membawa perlengkapan, menggunakan motor khusus, atau membangun jalur sementara untuk mencapai lokasi.
Semakin jauh perjalanan personel, semakin banyak peralatan yang harus dibawa.
Pompa membutuhkan bahan bakar. Selang harus disambungkan dari sumber air menuju titik pemadaman. Personel juga memerlukan perlindungan dari asap, panas, serta risiko kebakaran yang dapat berubah arah akibat angin.
Dalam kebakaran yang berada jauh di dalam lahan, perjalanan menuju titik api bahkan dapat memakan waktu lebih lama daripada proses penyemprotan awal.
Lahan Gambut Tidak Cukup Disiram dari Permukaan
Enam provinsi yang menjadi prioritas mempunyai wilayah gambut cukup luas. Karakter lahan ini membuat pemadaman jauh lebih rumit dibandingkan kebakaran vegetasi biasa.
Api pada gambut dapat masuk ke bagian tanah yang mengandung material organik. Permukaan mungkin terlihat sudah tidak menyala, tetapi panas dan bara masih dapat bertahan di bawahnya.
Kepala BNPB Letjen TNI Suharyanto sebelumnya menjelaskan pemadaman pada wilayah gambut membutuhkan keterlibatan satuan tugas darat. Air yang dijatuhkan dari udara membantu menekan kobaran, tetapi personel tetap harus masuk untuk memastikan bara di dalam tanah benar benar tertangani.
Inilah alasan proses pendinginan dapat berlangsung lama.
Petugas biasanya menyiram area berulang kali kemudian melakukan pemeriksaan terhadap titik yang masih mengeluarkan asap atau mempunyai suhu tinggi.
Bila bagian bawah gambut belum basah, api dapat kembali muncul meskipun permukaan sebelumnya terlihat padam.
Kalimantan Selatan Hadapi Puluhan Titik Api
Kalimantan Selatan menjadi salah satu wilayah yang memperlihatkan beratnya operasi pada paruh kedua Agustus.
BNPB mencatat 53 titik api dengan estimasi lahan terbakar sekitar 595 hektare pada sembilan wilayah hingga 21 Agustus. Kabupaten Banjar tercatat mempunyai estimasi area terbesar sekitar 174 hektare, kemudian Tanah Laut sekitar 107 hektare, Barito Kuala sekitar 96 hektare, dan Tapin sekitar 85 hektare.
Pemadaman darat melibatkan sekitar 387 personel dari BPBD, Manggala Agni, TNI, Polri, relawan, dan masyarakat.
Peralatan yang digunakan mencakup mobil tangki, pompa jinjing, pompa induk, tangki fleksibel, alat penyemprot, kepyok, garu, serta motor untuk menjangkau kawasan karhutla.
Keterbatasan air menjadi salah satu hambatan utama selain angin kencang dan medan yang sulit dijangkau.
Helikopter Water Bombing Membutuhkan Air dalam Jumlah Sangat Besar
Ketika kebakaran berada di lokasi yang tidak dapat ditembus tim darat dengan cepat, helikopter menjadi salah satu sarana pendukung penting.
Helikopter membawa bucket yang diturunkan menuju sungai, danau, waduk, atau sumber air lain. Setelah terisi, pesawat bergerak menuju lokasi kebakaran dan menjatuhkan air dari udara.
Operasi ini harus dilakukan berulang kali.
Di Kalimantan Selatan pada 21 Agustus, helikopter Super Puma melakukan 245 penjatuhan air dengan total sekitar 980 ribu liter. Helikopter MI8 melakukan 57 penjatuhan dengan sekitar 228 ribu liter, sedangkan Sikorsky Black Hawk melakukan 82 penjatuhan dengan sekitar 328 ribu liter.
Dalam satu hari operasi saja, kebutuhan air dapat mencapai lebih dari satu juta liter.
Ketika sumber air semakin jauh, waktu antara satu penjatuhan dan penjatuhan berikutnya otomatis bertambah.
Jarak Pengambilan Air Mengurangi Frekuensi Penerbangan
Efektivitas pemadaman udara sangat dipengaruhi jarak antara sumber air dan titik kebakaran.
Semakin dekat sumber air, semakin cepat helikopter dapat mengisi bucket, terbang menuju lokasi, menjatuhkan air, kemudian kembali mengambil muatan berikutnya.
Ketika jaraknya bertambah, setiap putaran membutuhkan bahan bakar serta waktu lebih banyak.
BNPB mengatakan sumber air yang biasa digunakan untuk bucket mulai surut di sejumlah wilayah. Pilot kemudian harus mencari lokasi lain yang masih mempunyai kedalaman dan luas yang memadai untuk mengambil air secara aman.
Faktor keamanan juga tidak dapat diabaikan. Helikopter tidak bisa mengambil air dari sembarang genangan.
Pilot membutuhkan ruang untuk melakukan pendekatan, menjaga kestabilan pesawat, menurunkan bucket, kemudian kembali memperoleh ketinggian.
Angin Kencang Membuat Manuver Helikopter Lebih Sulit
Air bukan satu satunya persoalan operasi udara.
BNPB menyebut angin kencang di sekitar kebakaran turut menghambat helikopter melakukan manuver.
Angin dapat mengubah arah asap dan api dengan cepat. Pilot harus memperhitungkan arah angin sebelum mendekati lokasi agar pesawat tidak masuk ke area asap terlalu tebal atau berada terlalu dekat dengan kobaran.
Air yang dijatuhkan juga dapat terbawa angin sehingga tidak seluruhnya mencapai sasaran yang direncanakan.
Dalam kondisi tertentu, operasi udara dapat dihentikan sementara apabila cuaca dianggap membahayakan keselamatan penerbangan.
Karena itu, water bombing tidak dapat dianggap sebagai solusi tunggal. Operasi udara tetap membutuhkan dukungan personel darat yang masuk setelah kobaran berkurang.
BNPB Siagakan 39 Unsur Udara
Skala operasi udara pada musim karhutla tahun ini cukup besar.
BNPB mencatat 39 unsur udara disiagakan di enam provinsi prioritas. Armada tersebut terdiri dari helikopter patroli, pesawat untuk operasi modifikasi cuaca, dan helikopter water bombing.
Riau memperoleh dukungan satu helikopter patroli, satu armada modifikasi cuaca, dan lima helikopter pemadam.
Jambi mendapat satu helikopter patroli, satu armada modifikasi cuaca, dan dua helikopter pemadam.
Sumatera Selatan memiliki satu helikopter patroli, satu armada modifikasi cuaca, serta tujuh helikopter pemadam.
Di Kalimantan Selatan terdapat satu helikopter patroli, satu armada modifikasi cuaca, dan tiga helikopter pemadam.
Kalimantan Tengah diperkuat satu helikopter patroli, satu armada modifikasi cuaca, serta empat helikopter pemadam. Kalimantan Barat mendapat dua helikopter patroli, satu armada modifikasi cuaca, dan lima helikopter pemadam.
Ribuan Titik Panas Terpantau di Kalimantan
Pemantauan satelit menjadi alat awal untuk mengetahui wilayah yang membutuhkan pemeriksaan.
Data SiPongi berdasarkan satelit NASA NOAA 20 pada 21 Agustus pukul 14.14 WIB menunjukkan terdapat 1.842 titik panas di lima provinsi Kalimantan. Sebanyak 1.832 berada pada tingkat kepercayaan sedang dan 10 pada tingkat kepercayaan tinggi.
Kalimantan Tengah mencatat jumlah terbanyak dengan 976 titik panas. Kalimantan Barat berada di urutan berikutnya dengan 489 titik.
Titik panas tidak selalu berarti sebuah kebakaran besar sedang berlangsung. Data satelit digunakan sebagai petunjuk awal yang kemudian perlu diperiksa melalui patroli udara maupun tim darat.
Namun, ketika jumlahnya meningkat dalam kondisi kemarau, kebutuhan pemeriksaan dan pengerahan personel ikut bertambah.
Luas Karhutla Enam Provinsi Sudah Puluhan Ribu Hektare
Pemerintah sebelumnya mencatat luas lahan terbakar di enam provinsi prioritas mencapai sekitar 48.889 hektare hingga 9 Agustus 2026.
Kalimantan Barat mempunyai catatan terbesar sekitar 28.680 hektare. Riau menyusul sekitar 15.551 hektare, kemudian Kalimantan Tengah sekitar 3.069 hektare. Sumatera Selatan tercatat sekitar 664 hektare, Jambi sekitar 540 hektare, dan Kalimantan Selatan sekitar 383 hektare.
Angka tersebut merupakan catatan pada awal Agustus sehingga luasan dapat berubah mengikuti perkembangan kebakaran berikutnya.
Pemerintah memperkirakan periode Agustus sampai September menjadi fase dengan risiko tinggi sehingga operasi tidak hanya diarahkan pada lokasi yang sudah terbakar.
Patroli juga dilakukan pada kawasan yang dinilai rentan agar kebakaran dapat ditemukan sebelum meluas.
Agustus Bertepatan dengan Puncak Musim Kemarau
Situasi yang dihadapi petugas sesuai dengan prediksi klimatologi yang telah dikeluarkan beberapa bulan sebelumnya.
BMKG memprediksi puncak musim kemarau pada 2026 terutama berlangsung dari Juli sampai September, dengan Agustus menjadi periode utama bagi sebagian besar wilayah. Puncak kemarau pada Agustus mencakup Sumatra bagian tengah, sebagian besar Jawa, Bali, Nusa Tenggara Barat, sebagian Nusa Tenggara Timur, sebagian besar Kalimantan, serta sejumlah wilayah Sulawesi, Maluku dan Papua.
Analisis BMKG untuk dasarian kedua Agustus menunjukkan sekitar 79,9 persen Zona Musim Indonesia telah berada dalam musim kemarau.
Pada periode yang sama, sekitar 90,29 persen wilayah yang dianalisis menerima curah hujan dalam kategori rendah.
Keadaan tersebut membantu menjelaskan mengapa sungai kecil, kanal, embung, dan genangan yang biasanya dapat digunakan petugas mulai kehilangan debit.
El Nino Ikut Memperkuat Kondisi Kering
BMKG juga memantau El Nino yang telah mencapai kategori kuat pada pertengahan 2026.
Pemantauan pada akhir Juni mencatat indeks bulanan Nino 3.4 mencapai 1,56. Nilai tersebut telah melewati batas kategori El Nino kuat.
BMKG menjelaskan pengaruh El Nino menjadi lebih terasa ketika berlangsung bersamaan dengan musim kemarau.
Sebagian besar wilayah Indonesia diperkirakan mengalami periode kering yang lebih kuat dibandingkan kondisi rata rata, sedangkan hujan dalam kategori tinggi diperkirakan baru bertambah secara bertahap sekitar Oktober dan November.
Bagi operasi karhutla, periode tanpa hujan berarti dua persoalan muncul bersamaan.
Vegetasi semakin mudah terbakar, sementara air yang dibutuhkan untuk memadamkannya justru semakin berkurang.
Operasi Modifikasi Cuaca Menunggu Awan yang Memadai
Salah satu upaya yang dilakukan pemerintah adalah operasi modifikasi cuaca.
Teknik ini tidak dapat menciptakan hujan dari langit yang benar benar tanpa awan. Petugas tetap membutuhkan awan dengan karakter tertentu agar penyemaian dapat dilakukan.
BNPB mengatakan operasi modifikasi cuaca dilaksanakan berdasarkan pemantauan pertumbuhan awan bersama BMKG.
Karena itu, pesawat dan bahan semai dapat berada dalam posisi siaga tetapi baru diterbangkan ketika kondisi atmosfer dinilai mendukung.
BMKG pada Agustus juga meningkatkan operasi serupa di sejumlah wilayah. Pada 25 Agustus, BMKG bersama BNPB, Otorita IKN, TNI AU, serta Pemerintah Kalimantan Timur menjalankan modifikasi cuaca untuk membantu menangani kekurangan air dan risiko karhutla di Kalimantan Timur.
Hujan hasil operasi dapat membantu membasahi vegetasi, meningkatkan kelembapan lahan, sekaligus menambah cadangan air yang digunakan petugas.
Satgas Darat Tetap Menjadi Ujung Tombak
Pemandangan helikopter menjatuhkan ribuan liter air memang paling mudah terlihat dari kejauhan, tetapi pemadaman tidak selesai ketika air menyentuh permukaan.
BNPB menegaskan operasi darat tetap menjadi bagian penting dalam memastikan api benar benar terkendali.
Setelah water bombing menurunkan intensitas kebakaran, personel masuk membawa pompa, selang, serta peralatan tangan.
Mereka mencari titik yang masih berasap, membuka permukaan gambut bila diperlukan, kemudian menyiram sampai bagian bawah cukup basah.
Proses tersebut dapat berlangsung berulang kali di lokasi yang sama.
Pada lahan gambut, api yang tersimpan di bawah permukaan dapat berpindah melalui material organik dan kembali muncul beberapa meter dari lokasi awal.
“Pemadaman dari udara dapat mengurangi kobaran dengan cepat, tetapi keberhasilan terakhir berada pada petugas yang masuk memastikan tanah tidak lagi menyimpan bara.”
Embung Darurat Mulai Menjadi Pilihan
Ketika kanal mengering, petugas dapat mencari cara untuk mendekatkan sumber air.
Pengalaman Manggala Agni di Aceh Selatan menunjukkan embung dapat dibuat sebagai penampungan sementara. Kanal dibersihkan dengan alat berat agar air yang masih tersedia dapat dikumpulkan dan digunakan pompa.
Pendekatan serupa dapat disesuaikan pada wilayah lain berdasarkan keadaan lapangan.
Tangki fleksibel juga digunakan untuk menyediakan cadangan air di dekat operasi pemadaman. BNPB mencatat perangkat tersebut menjadi bagian perlengkapan yang dikerahkan di Kalimantan Selatan bersama pompa dan mobil tangki.
Keuntungannya adalah personel tidak perlu terus kembali menuju sumber air yang sangat jauh.
Namun, air tetap harus diangkut atau dipompa menuju tempat penampungan tersebut sehingga akses logistik menjadi faktor penting.
Titik Api Dekat Bandara Mendapat Prioritas Tinggi
Di Kalimantan Selatan, operasi udara juga diarahkan ke kawasan yang mendekati permukiman dan Ring 1 Bandara Internasional Syamsudin Noor di Banjarbaru.
Kebakaran di sekitar bandara membutuhkan perhatian khusus karena asap dapat mengurangi jarak pandang.
Ketika jarak pandang turun, aktivitas penerbangan dapat mengalami gangguan keselamatan.
Pemadaman di lokasi semacam itu perlu dilakukan secepat mungkin sebelum asap bergerak menuju jalur pesawat.
Angin kembali menjadi faktor yang harus dipantau karena arah asap dapat berubah dalam waktu singkat.
Patroli udara digunakan untuk melihat posisi titik kebakaran sekaligus arah pergerakan asap sebelum armada pemadam ditentukan.
Kekeringan Juga Terlihat di Luar Wilayah Karhutla Utama
Penyusutan sumber air tidak hanya ditemukan di enam provinsi prioritas.
BNPB pada 21 Agustus mencatat kekeringan di sembilan desa di Kabupaten Parigi Moutong, Sulawesi Tengah. Sekitar 1.400 hektare sawah terdampak kondisi tersebut.
Debit sumber air utama di Desa Kayu Agung bahkan tinggal sekitar 25 persen dari kondisi normal.
Di Kota Cirebon, BPBD juga mencatat sumber air yang sebelumnya digunakan masyarakat mulai menyusut pada Agustus. Jumlah warga yang mengalami kesulitan air di Kelurahan Argasunya meningkat menjadi 3.929 jiwa hingga 21 Agustus.
Keadaan ini memperlihatkan tekanan kemarau terjadi pada banyak sektor sekaligus.
Air dibutuhkan masyarakat untuk kehidupan sehari hari, pertanian, sekaligus operasi pemadaman kebakaran.
Pencegahan Menjadi Semakin Penting saat Air Terbatas
Ketika sumber air berkurang, mencegah api muncul menjadi jauh lebih efektif dibandingkan harus memadamkan kebakaran yang sudah meluas.
BNPB terus meminta masyarakat tidak membuka maupun membersihkan lahan dengan cara membakar. Pemerintah daerah juga didorong memperkuat patroli, deteksi dini, serta posko penanganan selama periode rawan.
Laporan BNPB pada Agustus menunjukkan kebakaran dapat bermula dari berbagai aktivitas manusia. Di Banyumas, misalnya, kebakaran pada awal Agustus dilaporkan dipicu aktivitas pembakaran lahan yang kemudian menjalar ke area sekitarnya.
Petugas meminta masyarakat segera melaporkan asap maupun titik kebakaran yang baru terlihat.
Api yang masih kecil membutuhkan sumber daya jauh lebih sedikit untuk dikendalikan dibandingkan kebakaran yang sudah masuk jauh ke lahan gambut.
Dalam kondisi sungai, kanal, dan embung terus kehilangan air selama puncak kemarau, kecepatan laporan masyarakat menjadi semakin penting. Setiap jam keterlambatan dapat membuat petugas harus membawa lebih banyak personel, menambah panjang selang, mengerahkan helikopter, serta mencari sumber air yang jaraknya semakin jauh dari titik kebakaran.








